PADANG - FokusNusa.com
Lebih dari 662 ribu unit UMKM menjadi salah satu modal penting bagi Sumatera Barat dalam mengembangkan pertumbuhan ekonomi berbasis kekayaan budaya dan kreativitas lokal.
Potensi tersebut kembali diperkuat melalui Sumatera Barat Creative Economy Festival (SCF) 2026 yang resmi dibuka Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi di Grand Ballroom Hotel Pangeran Beach Padang, Jumat (28/8/2026).
Festival yang diselenggarakan Bank Indonesia (BI) Sumatera Barat itu mengusung tema “Creative Culture for Digital and Sustainable Future: Mendorong Daya Saing Ekonomi Kreatif Sumatera Barat Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital”.
Pembukaan SCF 2026 turut diisi sambutan Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S Budiman yang disampaikan secara digital. Aida mengapresiasi penyelenggaraan SCF sebagai bagian dari upaya memperkuat UMKM dan ekonomi kreatif Sumatera Barat di tengah momentum pertumbuhan ekonomi.
Dia mengatakan, perekonomian Indonesia saat ini tumbuh 5,29 persen. Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang membaiknya permintaan domestik, investasi dan pengeluaran pemerintah. Sementara pertumbuhan kredit telah berada di atas 13 persen.
“Momentum pertumbuhan ini perlu diperkuat agar ekonomi tumbuh tinggi, berdaya tahan, dan inklusif,” ujar Aida dalam sambutannya.
Menurut dia, UMKM memiliki posisi strategis dalam perekonomian Sumatera Barat. Dengan jumlah lebih dari 662 ribu unit, sektor tersebut menjadi modal besar bagi daerah untuk mengembangkan sumber pertumbuhan ekonomi berbasis kekayaan budaya dan kreativitas lokal.
Sumatera Barat memiliki beragam produk unggulan, seperti tenun, songket, sulaman, kriya, kuliner, kopi dan teh. Tantangannya adalah mengubah kekuatan tersebut menjadi nilai tambah ekonomi, membuka pasar dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
“Sumatera Barat punya modal yang sangat kuat. Produk tenun, songket, sulaman, kuliner dan lainnya merupakan kekuatan yang perlu terus dikembangkan menjadi nilai tambah ekonomi,” katanya.
Aida juga menyebut inflasi masih menjadi tantangan. Karena itu, penguatan UMKM dinilai penting untuk terus diarahkan pada peningkatan kapasitas, produktivitas dan perluasan pasar.
BI, kata dia, terus mendorong UMKM melalui pengembangan model bisnis, fasilitas sistem pembayaran serta berbagai fasilitasi untuk mendukung pengembangan usaha.
Digitalisasi menjadi salah satu bagian dari penguatan tersebut. Hingga triwulan II 2026, jumlah pengguna QRIS di Sumatera Barat mencapai 1,08 juta dengan sekitar 754 ribu merchant. Volume transaksi QRIS tumbuh 158 persen secara tahunan.
“Digitalisasi tidak hanya untuk mempermudah pembayaran, tetapi juga dapat memperkuat pemasaran, pencatatan transaksi, efisiensi usaha serta akses UMKM terhadap pembiayaan dan pasar,” ujar Aida.
*SCF Tak Sekadar Pameran*
SCF 2026 menghadirkan lebih dari 60 UMKM melalui sejumlah zona, di antaranya Citra Nusa, Gastronomi dan Cangkir Barista, Recycle & Green Creative serta Zona Edukasi.
Produk yang ditampilkan mencakup wastra, fesyen, kriya dan kerajinan, makanan dan minuman olahan, kopi, teh hingga produk usaha berbasis keberlanjutan.
Selain promosi produk, SCF juga menyediakan ruang edukasi melalui QRIS Experience, Cinta, Bangga, Paham Rupiah, pelindungan konsumen dan ekonomi syariah.
Festival tersebut juga memfasilitasi business matching pembiayaan kepada UMKM senilai Rp101.918.811.947.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi mengatakan, pemerintah daerah terus memperkuat pengembangan ekonomi kreatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, antara lain melalui penguatan hilirisasi produk, peningkatan kualitas produk, percepatan akses keuangan bagi pelaku UMKM dan sertifikasi halal.
Menurut Mahyeldi, pengembangan produk halal menjadi bagian penting bagi Sumatera Barat yang berlandaskan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Dia mengatakan, Sumatera Barat juga memiliki kebijakan pariwisata halal serta terus mendorong percepatan labelisasi halal bagi UMKM.
“Sumatera Barat merupakan provinsi yang berfalsafah _Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah_. Maka pengembangan produk halal memang menjadi bagian yang perlu kita kuatkan,” kata dia.
Mahyeldi melihat sektor pariwisata sebagai salah satu peluang pengembangan pasar produk UMKM. Dia menyebut wisatawan mancanegara yang datang ke Sumatera Barat banyak berasal dari Malaysia dan Singapura.
Saat ini, terdapat empat kali penerbangan Kuala Lumpur-Bandara Internasional Minangkabau dalam sepekan dan tiga kali penerbangan Singapura-Bandara Internasional Minangkabau setiap pekan.
Karena itu, dia menilai inovasi dan peningkatan kualitas produksi diperlukan untuk meningkatkan daya saing produk UMKM Sumatera Barat.
“Digitalisasi tidak kalah penting. Penguatan branding dan fasilitasi penguatan produk perlu dilakukan agar UMKM Sumbar bisa naik kelas,” ujarnya.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram mengatakan, pengembangan ekonomi kreatif perlu berjalan bersama digitalisasi.
“Pengembangan ekonomi kreatif perlu berjalan bersama dengan digitalisasi. Karena itu, kami ingin kegiatan seperti ini juga memberikan pengalaman dan manfaat bagi masyarakat dalam menggunakan transaksi digital,” ujar Majid.
SCF 2026 juga menghadirkan SCF Forum, SCF Competition, entertainment dan cultural performance. Forum tersebut mencakup talkshow, workshop dan business matching dengan sejumlah tema, mulai dari literasi keuangan, pemanfaatan AI untuk foto produk, digitalisasi dan pelindungan data UMKM, ekspor, ekonomi hijau, ekonomi dan keuangan syariah hingga pengembangan fesyen.
Festival berlangsung pada 28–30 Agustus 2026 di Hotel Pangeran Beach Padang dan terbuka untuk masyarakat. (Yyn)

