Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Ads

Di Padang Golf Indarung, Dua Meriam Perang Dunia Kokoh Jadi Bukti Sejarah

 

Dua meriam tua itu masih menghadap ke arah yang sama seperti puluhan tahun lalu, ketika dunia sedang dilanda perang besar dan Sumatera Barat menjadi wilayah pertahanan militer Jepang. (Foto: Semen Padang/FokusNusa.com)

PADANG-FokusNusa.com

Di tengah lapangan golf yang dipenuhi rumput hijau dan suara burung, berdiri dua benda yang seolah tak pernah ikut menua bersama zaman. Dua meriam tua itu masih menghadap ke arah yang sama seperti puluhan tahun lalu, ketika dunia sedang dilanda perang besar dan Sumatera Barat menjadi wilayah pertahanan militer Jepang

Lapangan Golf PT Semen Padang yang kini menjadi ruang olahraga dan rekreasi dulunya merupakan kawasan tambang tanah liat seluas sekitar 50 hektare. Dari area bukit dan lubang galian, kawasan itu berubah menjadi ruang hijau yang sejuk dan hidup.

Pepohonan rindang menaungi lapangan. Elang ular bido sesekali melayang di udara. Burung cekakak sungai dan cekakak belukar bertengger di dahan, sementara burung madu sriganti beterbangan di antara bunga. Rusa totol yang didatangkan dari Istana Bogor berkeliaran bebas. Di sungai kecil sekitar lapangan, ikan bilih—ikan endemik Danau Singkarak—masih berkembang biak.

Namun dua meriam tua di tengah kawasan hijau itulah yang kerap mencuri perhatian pengunjung. Banyak yang berfoto di depannya. Tak jarang pasangan pengantin menjadikannya latar foto, tanpa sepenuhnya menyadari bahwa mereka berdiri di hadapan peninggalan Perang Dunia II.

Sumatera Barat menyimpan banyak jejak militer Jepang. Pada masa pendudukan 1942–1944, wilayah ini menjadi jalur strategis pertahanan pantai barat Sumatra. Jepang membangun bunker, gua perlindungan, rumah sakit militer, hingga meriam pertahanan di berbagai titik—dari Padang, Painan, hingga pesisir Pariaman.

Di Indonesia, ratusan meriam peninggalan Jepang masih tersebar hingga kini. Sebagian berada di benteng pantai, sebagian lain berada di permukiman warga, pelabuhan, bahkan kebun. Banyak yang tak tercatat secara resmi, tanpa prasasti dan tanpa cerita utuh—seperti dua meriam di Indarung ini.

Kedua meriam di Lapangan Golf Semen Padang memiliki panjang sekitar lima meter dengan diameter laras kurang lebih 60 sentimeter. Keduanya dipasang sejajar dari timur ke barat dengan jarak sekitar 30 meter.

Meriam di sisi timur mengarah ke Bukit Batu Kapur PT Semen Padang, sementara meriam di sisi barat menghadap ke kawasan Pabrik Indarung VI. Arah bidikan tersebut memunculkan dugaan bahwa meriam ini dipasang sebagai bagian dari sistem pertahanan kawasan industri strategis.

Meski telah dilapisi karat, sejumlah kode masih terbaca jelas. Pada salah satu meriam tertera tulisan “O.F. 3 INCH. 20 CWT. MK III” dan angka 1916. Kode ini menunjukkan bahwa meriam tersebut dibuat pada masa Perang Dunia I dan kemudian digunakan kembali oleh Jepang saat menduduki Hindia Belanda.

Meriam lainnya menyisakan kode samar “NᵒL/169”, sementara bagian lain telah dimakan usia. Tidak ada prasasti. Tidak ada catatan resmi.

Menurut buku 100 Tahun PT Semen Padang, pada Maret 1942 tentara Jepang bergerak dari Aceh dan Medan menuju Bukittinggi dan kemudian mengambil alih Sumatera Barat. Awal April 1942, Kolonel Fujiyama datang ke Padang untuk serah terima kekuasaan dari Residen Belanda.

Jepang kemudian tiba di Indarung, lokasi pabrik semen NV Nederlandsch-Indische Portland Cement Maatschappij (NV NIPCM). Saat itu, pabrik dalam kondisi berhenti beroperasi. Produksi terhenti dan buruh menghilang karena kawasan Indarung dan Pelabuhan Teluk Bayur sering dibombardir.

Kedatangan Jepang menjadi awal masa kelam. Staf kulit putih dan keluarga mereka diinternir. Serdadu KNIL Belanda di sekitar Indarung dieksekusi di kawasan Gadut.

Dengan bantuan Doesoen Malin Kayo, pegawai senior yang memegang kunci pabrik, Jepang menghidupkan kembali fasilitas tersebut. Pada Agustus 1942, pabrik kembali beroperasi dengan nama Asano Cement, lalu Pabrik Semen Indarung. Semua yang berbau Belanda dihapus, termasuk penggunaan bahasa Belanda.

Semen Indarung diproduksi untuk kepentingan ekonomi perang Jepang: membangun benteng, jembatan, dan infrastruktur militer di Indonesia dan Asia Tenggara.

Pada 24 Agustus 1944, sekitar 40 pesawat Sekutu menyerang kawasan Indarung. Ratusan ton bom dijatuhkan. Pabrik rusak berat. Sedikitnya 19 buruh tewas di sebuah lubang perlindungan, sementara ratusan lainnya luka-luka.

Setelah itu, Jepang memaksa buruh membangun lebih banyak lubang perlindungan dan benteng pertahanan. Meriam-meriam penangkis serangan udara ditempatkan di sekitar kawasan pabrik dan Gadut, termasuk dua meriam yang kini berdiri di Lapangan Golf Semen Padang.

Tokoh masyarakat Indarung, Dharmansyah Siroen, menyebut dudukan beton meriam dibuat melalui kerja paksa masyarakat pribumi. 

“Sejak kawasan ini ditambang hingga menjadi lapangan golf, posisi meriam tidak pernah dipindahkan,” ujarnya.

PT Semen Padang memilih merawat peninggalan tersebut. 

“Kami memandang meriam ini sebagai bagian dari nilai sejarah yang patut dijaga,” kata Kepala Unit Komunikasi dan Kesekretariatan PT Semen Padang Idris.

Kini, dua meriam tua itu tetap berdiri di tengah hamparan hijau lapangan golf—diam, berkarat, dan menjadi bukti bahwa Indarung pernah berada di pusaran sejarah Perang Dunia. (000/003)

Baca Juga
Tags

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Fokusnusa.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel

Bottom Post Ads

Copyright © 2024 - Fokusnusa.com | All Right Reserved