PADANG-FokusNusa.com
Ceramah Buya Ristawardi Dt. Marajo Nan Batungkek Ameh kini kerap beredar. Gaya dakwahnya yang ringan, jenaka, namun sarat makna membuat potongan ceramahnya sering muncul di halaman rekomendasi pengguna.
Namun perjalanan hidup mubaligh asal Baso, Bukittinggi, itu tidak selalu berada di mimbar dakwah. Sebelum dikenal luas seperti sekarang, ia pernah menjalani pekerjaan fisik berat sebagai buruh angkat semen di Pelabuhan Teluk Bayur.
Pada 1974, Ristawardi muda bekerja memindahkan karung-karung semen produksi PT Semen Padang dari lori ke gudang sebelum dimuat ke kapal. Pekerjaan tersebut dijalaninya sekitar delapan jam setiap hari.
“Kalau sudah selesai bekerja, badan rasanya kaku. Dipanggil orang tak bisa menoleh, harus memutar seluruh badan,” kenangnya.
Beberapa tahun kemudian, ia diangkat menjadi karyawan tetap PT Semen Padang. Karena tidak memiliki pendidikan formal tinggi, ia ditempatkan sebagai petugas kebersihan atau cleaning service.
Di tengah aktivitas pekerjaan, ia tetap aktif mengikuti dan mengisi kegiatan keagamaan. Kemampuan berbicaranya mulai dikenal di lingkungan perusahaan maupun masyarakat.
Perjalanan hidupnya berubah setelah ia diminta menyampaikan pidato pelepasan jenazah seorang pimpinan perusahaan ketika ulama penasihat perusahaan sedang berada di luar negeri.
“Usai acara, para pimpinan PT Semen Padang bertanya siapa ustaz tadi. Mereka terkejut ketika mengetahui bahwa sosok yang baru saja menyampaikan tausiah itu adalah seorang cleaning service di pabrik PT Semen Padang,” ujarnya.
Sejak saat itu ia dipindahkan ke bagian kantor dan mulai membantu kegiatan pembinaan rohani di lingkungan perusahaan. Ia kemudian dipercaya menjabat sebagai Kepala Urusan Konseling Rohani.
Selama sekitar 35 tahun bekerja di PT Semen Padang, Buya Ristawardi tidak hanya menjalankan tugas sebagai karyawan, tetapi juga menjadi pembina rohani bagi para pekerja.
Pada 1982 ia mengikuti pelatihan kader mubaligh Dewan Masjid. Setahun kemudian namanya mulai dikenal, dan pada 1986 ia telah rutin memberikan ceramah di berbagai daerah di Sumatera Barat.
Dalam ceramahnya, Buya Ristawardi dikenal memadukan ayat dan hadis dengan pepatah Minangkabau serta falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”. Pendekatan tersebut membuat dakwahnya terasa dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ia juga mengingat dukungan PT Semen Padang dalam pengkaderan mubaligh di Sumatera Barat pada awal 1990-an.
“Namanya Pengkaderan Mubaligh. Mereka dilatih retorika dakwah, psikologi dakwah, dan berbagai materi lainnya. Waktu itu kami meminjam Masjid Raya Al Ittihad Indarung sebagai lokasi pelatihan, dengan seluruh biaya disokong oleh PT Semen Padang,” ujarnya.
Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang Win Bernadino mengatakan, perusahaan bangga memiliki sosok seperti Buya Ristawardi.
Dia menyebut, perjalanan hidup Buya Ristawardi menunjukkan bahwa nilai kerja keras dan spiritualitas dapat tumbuh berdampingan di lingkungan industri serta memberi manfaat luas bagi masyarakat. (000/sp)


