![]() |
| Antrean warga tampak sudah padat, sejak pagi di lokasi penukaran uang Rupiah yang digelar Bank Indonesia di Padang. (Foto: SISCA O.S./FokusNusa.com) |
PADANG-FokusNusa.com
Selasa (20/1/2026), antrean warga tampak sudah padat, sejak pagi di lokasi penukaran uang Rupiah yang digelar Bank Indonesia di Padang. Sebagian datang membawa pecahan besar untuk ditukar, sebagian lain menggenggam erat nomor antrean. Namun tujuan mereka bukan hanya satu. Selain ingin mendapatkan uang pecahan layak edar, warga juga mengincar beras murah, baik beras pera maupun beras pulen, yang dijual bersamaan dalam program kolaborasi Bank Indonesia dan Bulog.
Di sudut lokasi, meja penjualan beras tak pernah benar-benar lengang. Pertanyaan datang silih berganti, bahkan nyaris tanpa jeda. Tentang harga, jenis beras, sampai perbedaan rasa dan tekstur. Jamalus, petugas Bulog, tampak tak pernah kehabisan senyum. Dengan nada ramah dan sabar, dia terus memberi perulasan kepada masyarakat yang bertanya, meski pertanyaan yang sama datang berulang kali.
“Kalau ini beras pera, Bu. Yang itu pulen. Bedanya di tekstur nasi,” ujarnya sambil menunjuk karung beras, lalu tertawa kecil ketika kembali disapa warga lain dengan pertanyaan serupa. Suasana pun terasa cair, jauh dari kesan antrean yang tegang.
Program ini menggabungkan dua kebutuhan masyarakat sekaligus. Warga yang menukarkan uang Rupiah mendapatkan voucher senilai Rp25 ribu. Voucher tersebut dapat digunakan untuk membeli beras Bulog seberat 5 kilogram, baik beras pera Suntiang maupun beras pulen Setra Ramos. Harga awal beras Rp77 ribu. Dengan voucher, warga ternyata cukup menambah pembayaran untuk beras sekitar Rp52 ribu saja.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat Andy Setyo Biwado menjelaskan, kegiatan ini bertujuan memastikan ketersediaan uang layak edar di masyarakat sekaligus membantu menjaga daya beli.
Dijelaskan, untuk dua hari ini, pihaknya menyediakan total Rp1,8 miliar, terdiri dari pecahan mulai dari Rp1.000 sampai Rp20.000.
“Setelah menukar uang, masyarakat mendapat voucher Rp25 ribu yang bisa digunakan untuk membeli beras Bulog,” kata Andy.
Menurut dia, kegiatan ini juga merespons kecenderungan kenaikan harga beras dalam beberapa waktu terakhir. Karena itu, penukaran uang dipadukan dengan penjualan beras murah agar manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat.
Antusiasme warga terlihat jelas. Alimi (52), pedagang asal Tabing, mengaku datang untuk menukar uang kecil sebagai kembalian dagangannya.
“Kalau jualan, uang kecil itu penting. Sekalian dapat beras murah, jadi hemat,” katanya.
Mila (43), pedagang di Pasar Raya Padang, menukar uang pecahan Rp100 ribu untuk persiapan kebutuhan Rayo. Sementara Mala (45), yang sehari-hari mengonsumsi beras pera, langsung memilih beras Suntiang.
“Biasanya pakai beras pera. Di sini harganya lebih ringan,” ujarnya.
Di tengah ramainya pembeli, Jamalus tetap berdiri di tempatnya, melayani pertanyaan tanpa henti. Sesekali ia bercanda ringan, memastikan warga tidak salah memilih beras. Bulog menyiapkan sekitar 500 kantong beras dalam kegiatan ini, terdiri dari kombinasi beras pera Suntiang dan beras pulen Setra Ramos. Bank Indonesia juga membagikan suvenir berupa pouch dan kalender kepada warga yang ikut menukar uang.
Program ini bukan sekadar penukaran Rupiah dan penjualan beras. Di sela antrean dan senyum Pak Jamalus yang tak lepas melayani warga, terlihat upaya menghadirkan layanan yang dekat, ramah, dan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. (003)


