PADANG-FokusNusa.com
Bank Indonesia menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mendorong pemulihan dan arah pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada 2026, terutama pascabencana hidrometeorologi yang berdampak luas terhadap aktivitas ekonomi daerah. Stabilitas, pemulihan, dan penguatan sumber pertumbuhan dinilai menjadi kunci agar ekonomi Sumbar tidak terjebak pada pertumbuhan rendah.
Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram dalam kegiatan Dialog Ekonomi Sumatera Barat bertajuk “Peluang dan Tantangan Ekonomi Sumatera Barat 2026” yang digelar di Padang, Senin (19/1/2026).
Majid menyampaikan bahwa secara struktural perekonomian Sumatera Barat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan melambat. Pascapandemi COVID-19, pertumbuhan ekonomi Sumbar konsisten berada di bawah nasional, yang mampu bertahan di kisaran 5 persen, sementara Sumbar rata-rata hanya tumbuh di kisaran 4 persen dalam empat tahun terakhir.
Kondisi tersebut diperberat oleh bencana hidrometeorologi yang menekan kinerja ekonomi sepanjang 2025. Dampak bencana dinilai berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi Sumbar ke level yang lebih rendah apabila pemulihan tidak berjalan optimal.
Dari perspektif perencanaan nasional, perwakilan Bappenas Ibnu Yahya menyoroti bahwa perlambatan ekonomi daerah erat kaitannya dengan melemahnya konsumsi dan investasi pascabencana. Pemulihan infrastruktur dan penguatan aktivitas ekonomi menjadi prasyarat penting agar Sumatera Barat dapat mengejar ketertinggalan pertumbuhan.
Dia menekankan bahwa meskipun ekonomi nasional masih tumbuh relatif stabil, Sumatera Barat memerlukan dukungan percepatan agar tidak tertinggal dalam pencapaian target pembangunan.
Sementara, Kasi Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur Jalan BPJN Sumatera Barat Yulia Rahmadani memaparkan dampak bencana terhadap konektivitas wilayah. Data BPJN menunjukkan, ratusan titik ruas jalan dan jembatan nasional terdampak banjir, longsor, dan banjir bandang, yang secara langsung mengganggu distribusi barang, mobilitas masyarakat, serta aktivitas ekonomi.
Pemulihan infrastruktur jalan dan jembatan dinilai krusial karena berperan sebagai penggerak utama sektor perdagangan, logistik, dan pariwisata di Sumatera Barat.
Dari sisi dunia usaha, Ketua KADIN Sumatera Barat Buchari Bachter menyampaikan bahwa sepanjang 2025 ekonomi Sumatera Barat menghadapi tekanan dari melemahnya daya beli masyarakat, perlambatan investasi, serta terbatasnya ekspansi usaha. Struktur ekonomi yang masih didominasi sektor bernilai tambah rendah membuat Sumbar rentan terhadap guncangan, termasuk bencana alam dan tekanan global.
Dia menilai, dunia usaha membutuhkan kepastian infrastruktur, iklim investasi yang kondusif, serta dukungan kebijakan agar mampu berkontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Melalui dialog ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai Rupiah dan inflasi, sekaligus mendorong sistem keuangan yang inklusif. (003)


