![]() |
| Kepala KPwi BI Sumbar Mohamad Abdul Majid Ikram, memberi pemaparan saat media briefing di Padang, Senin (5/1/2026). (Foto: SISCA O.S./FokusNusa.com) |
PADANG-FokusNusa.com
Inflasi Sumatera Barat tercatat tinggi sepanjang 2025, seiring tekanan cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi yang berdampak pada sektor pangan serta distribusi. Kondisi tersebut turut memengaruhi kinerja ekonomi daerah yang diproyeksikan melambat.
Hal itu disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram dalam kegiatan media briefing Overview Perekonomian 2025 dan Outlook Perekonomian 2026, yang dihadiri deputi kepala BI Sumbar dan jajaran, di Padang, Senin (5/1/2026).
Mohamad Abdul Majid Ikram menjelaskan, inflasi Sumatera Barat pada semester awal 2025 sebenarnya masih relatif terjaga hingga Juli. Namun, tekanan mulai meningkat sejak Agustus akibat cuaca ekstrem yang berdampak langsung pada sektor pertanian.
“Inflasi Sumbar termasuk yang tertinggi. Kami di bawah Aceh di angka 5,15 persen. Kenaikan harga ini disebabkan cuaca ekstrem yang menurunkan produksi komoditas pangan seperti bawang, beras, dan cabai,” katanya.
Menurut dia, inflasi terutama bersumber dari kelompok volatile food. Perubahan pola tanam serta kerentanan padi terhadap faktor cuaca menyebabkan produksi menurun, sementara permintaan tetap tinggi.
Selain itu, beras Sumatera Barat mulai diminati pasar luar daerah, seperti Riau, Kepulauan Riau, Jawa, hingga Malaysia, terutama untuk memenuhi kebutuhan rumah makan Padang. Di sisi lain, produksi beras mengalami penurunan sehingga harga tidak sepenuhnya mengikuti kebijakan harga eceran tertinggi.
“Sekarang beras Sumbar mulai diminati di luar provinsi, terutama untuk pasokan rumah makan Padang. Sementara produksinya menurun,” ujarnya.
Tekanan serupa terjadi pada komoditas cabai. Penurunan produksi dan suplai memaksa daerah mengandalkan pasokan dari luar, terutama Jawa, yang menyebabkan inflasi bertahan hingga November 2025.
Memasuki Desember, harga pangan sempat menunjukkan tren penurunan seiring upaya pengendalian. Namun, bencana hidrometeorologi kembali mengganggu distribusi akibat terputusnya sejumlah jalur logistik.
“Jalur distribusi yang biasa dilalui tidak bisa digunakan karena jalan terputus. Ini membuat pengendalian inflasi semakin menantang. Kenaikan harga bersifat fundamental, bukan karena spekulasi,” jelasnya.
Selain pangan, inflasi juga dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan yang mengikuti tren global.
Dari sisi ekonomi, Bank Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada 2025 diperkirakan berada di kisaran 3,33 hingga 4,13 persen secara tahunan. Perlambatan ini dipengaruhi tertahannya konsumsi masyarakat serta melemahnya kinerja sejumlah sektor usaha.
Meski demikian, Bank Indonesia memproyeksikan perbaikan pada 2026. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat diperkirakan meningkat di rentang 3,77 hingga 4,57 persen, didorong belanja pemerintah untuk pemulihan pascabencana, aktivitas konstruksi, serta konsumsi masyarakat.
Namun, BI juga mencatat risiko yang perlu diwaspadai, antara lain potensi bencana lanjutan, belum pulihnya lahan pertanian, serta menurunnya produktivitas masyarakat terdampak.
Untuk inflasi 2026, Bank Indonesia menargetkan inflasi Sumatera Barat berada di kisaran 2,25 persen dengan deviasi plus minus satu persen.
“Target kami, inflasi 2026 berada di angka 2,25 persen dengan batas atas maksimal 3,5 persen,” kata Mohamad Abdul Majid Ikram.
Ia menegaskan, pengendalian inflasi ke depan akan difokuskan pada penguatan ketahanan pangan, perbaikan distribusi, serta sinergi lintas instansi agar stabilitas harga dan pemulihan ekonomi daerah dapat terjaga. (003)


